Rabu, 05 Oktober 2011

ANALISIS RASIO KEUANGAN


ANALISIS RASIO KEUANGAN

PENGANTAR
Analisis rasio keuangan merupakan peralatan (tools) untuk memahami laporan keuangan (khususnya neraca dan laba-rugi). Dalam hal ini, perlu disadari bahwa analisis rasio keuangan bukanlah proses mekanisme membagi pos dengan pos lain. Melainkan analisis yang membutuhkan pemahaman yang mendalam mengenai berbagai aspek keuangan yang saling keterkaitan satu sama lain. Rasio menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan (mathematical relationship) antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain.
Analisis rasio dapat digunakan untuk membimbing investor dan kreditor untuk membuat keputusan atau pertimbangan tentang pencapaian perusahaan dan prospek di masa datang. Salah satu cara pemrosesan dan penginterpretasian informasi akuntansi, yang dinyatakan dalam artian relatif maupun absolut untuk menjelaskan hubungan tertentu antara angka yang satu dengan angka yang lain dari suatu laporan keuangan.
Analisis rasio keuangan menggunakan data laporan keuangan yang telah ada sebagai dasar penilaiannya. Meskipun didasarkan pada data dan kondisi masa lalu, analisis rasio keuangan dimaksudkan untuk menilai risiko dan peluang di masa yang akan datang. Pengukuran dan hubungan satu pos dengan pos lain dalam laporan keuangan yang tampak dalam rasio-rasio keuangan dapat memberikan kesimpulan yang berarti dalam penentuan tingkat kesehatan keuangan suatu perusahaan. Tetapi bila hanya memperhatikan satu alat rasio saja tidaklah cukup, sehingga harus dilakukan pula analisis persaingan-persaingan yang sedang dihadapi oleh manajemen perusahaan dalam industri yang lebih luas, dan dikombinasikan dengan analisis kualitatif atas bisnis dan industri manufaktur, analisis kualitatif, serta penelitian-penelitian industri.
TEORI / KONSEP
A.1. Jenis Analisis
Ada tiga jenis analisis didalam analisis rasio keuangan, yaitu diantaranya :
(1)         Analisis silang (cross-sectional) yang membandingkan rasio dalam waktu (tahun) yang sama;
(2)         Analisis runtun waktu (time-series) yang membandingkan rasio dalam waktu (tahun) yang berbeda;
(3)         Analisis gabungan (combined) yang menyatukan kedua analisis sebelumnya.
Berikut kami sajikan mengenai sebuah ilustrasi sederhana tentang perusahaan X beserta data rata-rata industri dari jenis analisis rasio tersebut :
 

                                           Perusahaan X                                  Rata-rata Industri
 

 Tahun 2006                                        10%                                                     13%
 Tahun 2007                                        12%                                                     14%

            Dalam hal ini perusahaan X pada tahun 2006 memperoleh ROE (rasio laba) sebesar 10% dan pada tahun 2007 sebesar 12%. Untuk tahun yang disesuaikan diatas ROE rata-rata industri diperoleh sebesar 13% dan 14%.
            Apabila kita melakukan analisis runtun waktu pada perusahaan X dapat dinyatakan bahwa kinerja membaik karena naik dari 10% menjadi 12%. Jika kita melakukan analisis silang maka akan diperoleh kinerja perusahaan justru tergolong buruk, karena ROE perusahaan  konsisten lebih rendah dari pada rata-rata industri. Untuk mengetahui analisis apa yang paling tepat mengenai ilustrasi diatas ialah bahwa kita terlebih dahulu perlu melakukan analisis gabungan sehingga diperoleh informasi yang lebih lengkap. Hasil analisis gabungan tersebut memberikan informasi yang sangat jelas. Sekalipun perusahaan X mengalami kenaikan ROE, kenaikannya ternyata dibawah rata-rata industri. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa kinerja perusahaan X tergolong buruk dan harus diperbaikki pada tahun-tahun sebelumnya.

A. 2.  Metode Pendekatan Analisis Rasio Keuangan
1.      Pendekatan Lintas Seksi (Cross Sectional Approach). Yaitu cara mengevaluasi dengan jalan membandingkan rasio-rasio antara perusahaan yang satu dengan perusahaan lainnya yang sejenis pada saat bersamaan. Dengan cara ini dapat diketahui apakah perusahaan yang bersangkutan berada di atas, berada pada rata-rata, atau berada dibawah rata-rata industri.
2.      Pendekatan Runtut Waktu (Time Series Analysis) Yaitu cara mengevaluasi dengan jalan membandingkan rasio-rasio finansial perusahaan dari satu periode ke periode lainnya. Dengan membandingkan antara rasio-rasio yang dicapai saat ini dengan rasio-rasio dimasa lalu yang dapat memperlihatkan apakah perusahaan mengalami kemajuan atau kemunduran. Perkembangan perusahaan terlihat pada kecenderungan ''(trend)'' dari tahun ke tahunnya, dan dengan melihat perkembangan ini perusahaan akan dapat membuat rencana untuk masa depannya.
A. 3.  Standar Penilaian dalam Analisis Rasio
Dalam hal ini terdapat empat macam standar dalam analisis rasio, yakni :
a)            Rata-rata industri, perusahaan membandingkan rasionya dengan rasio rata-rata industri
b)           Perusahaan paling unggul, dalam hal ini mungkin sulit untuk memperoleh data rata-rata industri yang lengkap. Dan untuk mengatasinya sendiri dimana perusahaan perlu cukup membandingkan rasionya dengan rasio perusahaan paling unggul dibidang yang sama.
c)            Data histories, dimana perusahaan membandingkan rasionya dengan rasio tahun-tahun yang lalu.
d)           Anggaran serta realisasinya, perusahaan membandingkan rasio berdasarkan anggaran (rencana) dengan realisasinya.
Apabila dikaitkan kembali dengan jenis analisis dalam analisis rasio keuangan, rata-rata industri dan perusahaan paling unggul masuk dalam kelompok analisa silang, sedangkan data histories dan anggaran serta realisasinya masuk kedalam kelompok analisa runtun waktu.



A. 4.  Keterbatasan Analisis Rasio Keuangan
1.            Rasio tersebut dibentuk dari data akuntansi dan data ini dipengaruhi oleh cara penafsirannya dan bahkan dapat dimanipulasi.
2.            Seorang manajer keuangan harus berhati - hati dalam penilaian apakah suatu rasio tertentu baik atau buruk dalam penilaian gabungan tentang sebuah perusahaan, berdasarkan suatu kumpulan rasio - rasio.
3.            Kecocokan dengan rasio gabungan industri bukan suatu jaminan bahwa perusahaan tersebut sedang berjalan normal dan dipimpin dengan baik.
4.            Dalam menganalisa setiap rasio, angka - angka yang diperoleh dan perhitungan tidak dapat berdiri sendiri. Rasio tersebut akan berarti bila setidaknya satu dari dua hal ini dipenuhi 1) Adanya perbandingan dengan perusahaan sejenis yang mempunyai tingkat risiko yang hampir sama; 2) Adanya analisa kecenderungan (trend) dari setiap rasio pada tahun – tahun sebelumnya.
5.            Pencapaian target sesuai dengan rata rata industri tidak menunjukkan Kinerja perusahaan yang baik. Kebanyakan perusahaan justru menginginkan tingkat yang lebih baik dari rata - rata industri. Oleh karena itu lebih tepat jika difokuskan pada industry leader's ratios.
B.           Aspek Keuangan
Ada lima aspek keuangan yang penting dianalisis, antara lain :
(1)               Likuiditas (liquidity), mengukur kemampuan perusahaan untuk melunasi kewajiban (utang) jangka pendek tepat pada waktunya, termasuk melunasi bagian utang jangka panjang yang jatuh tempo pada tahun bersangkutan.
(2)               Aktivitas atau aktiva (activity or asset), mengukur kemampuan aktiva perusahaan didalam menghasilkan pendapatan (penjualan).
(3)               Utang (debt) atau solvabilitas (solvability) atau leverage, mengukur dua hal, yakni ; (1) proporsi utang perusahaan yang digunakan untuk membiayai investasi, dan (2) kemampuan perusahaan dalam membayar utangnya (khususnya dalam jangka panjang).
(4)               Profitabilitas (profitability), mengukur kesanggupan perusahaan didalam menghasilkan laba.
(5)               Nilai pasar (market value), mengukur kinerja saham perusahaan di pasar modal.

C.         Rasio Keuangan dan Pengertiannya

C.1.  Rasio Likuiditas

Rasio lancar (current ratio-CR) =     Aktiva Lancar
Utang Lancar
Makin tinggi jumlah aktiva lancar (relative terhadap utang lancar) makin tinggi rasio lancar, yang berarti pula makin tinggi tingkat likuiditas perusahaan. Namun, apabila semakin tinggi rasio lancar (makin tinggi tingkat likuiditas) makin tinggi pula jumlah kas yang tidak terpakai, yang pada akhirnya justru akan menurunkan tingkat profitabilitas. Dengan demikian, selalu ada pertukaran (trade-off) antara likuiditas dan profitabilitas.

Rasio cepat (quick ratio / acid-test ratio – QR/ATR) =
Aktiva lancar – persediaan : Utang Lancar

Komponen aktiva lancar terdiri atas kas, surat berharga jangka pendek, piutang usaha, persediaan, biaya dibayar dimuka, dan perlengkapan. Selain kas dan surat berharga jangka pendek, hanya piutang usaha dan persediaan yang masih mungkin dicairkan menjadi kas. Karena dua komponen terakhir sesungguhnya bukan aktiva lancar yang dapat dicairkan kembali menjadi kas.
Persediaan dikurangi aktiva lancar karena persediaan dianggap komponen aktiva lancar yang tidak likuid (dibandingkan piutang usaha) karena persediaan barang dagang umumnya dijual secara kredit dan menjadi piutang usaha, kemudian menjadi kas setelah tertagih. Dalam hal ini apabila persediaan relative lama terjualnya (perputaran persediannya rendah) maka kita layak memakai rasio capat dibandingkan rasio lancar.

Rasio Kas (cash ratio – CsR) =        Kas + Surat berharga jangka pendek
                                                                                    Utang Lancar
Jika piutang usaha dinilai akan sulit tertagih (kredit macet), komponen aktiva lancar yang benar-benar siap dicairkan hanyalah kas dan surat berharga jangka pendek. Jadi, rasio kas mengukur likuiditas dari aktiva lancar yang pasti dapat dicairkan menjadi kas. Bilamana persediaan diperkirakan lama terjual dan piutang lama tertagih, kita sebaiknya menggunakan rasio kas sebagai pengukur likuiditas, bukan rasio lancer atau rasio cepat.

C.2.     Rasio Aktivitas atau Aktiva

Perputaran persediaan (inventory turnover – ITO) =
                                    Harga pokok penjualan : Persediaan
Rumus awal perputaran persediaan sebenarnya adalah penjualan dibagi persediaan. Apabila semakin tinggi nilai perputaran persediaan rasio ini, maka semakin cepat barang dagangan yang laku terjual. Sebab semakin cepatnya barang terjual, maka semakin cepat pula perusahaan akan mengalmi kekurangan stok barang (stock-out).

Rata-rata periode pengumpulan (average collection period – ACP) 2 =
                                                 Piutang usaha : Penjualan Kredit /12 bulan (360 hari)
Rumus awal rata-rata periode pengumpulan untuk piutang usaha adalah penjualan kredit dibagi piutang usaha, disebut perputaran piutang usaha (account receivable turnover – ARTO). Serupa dengan ITO, jika suatu perusahaan mempunyai ARTO sebesar 4 x, hal itu berarti lamanya piutang usaha tertagih adalah 3 bulan (12 bulan / 4 x) atau 90 hari (360 hari / 4 x).
Dengan menggunakan ACP, kita akan langsung mendapatkan jangka waktu penagihan piutang usaha dalam bulan atau harinya. Makin rendah ACP makin cepat piutang usaha tertagih. Dalam jangka pendek rasio ini dapat dikatakan baik, tetapi bisa berdampak buruk dalam jangka panjang.

Perputara Aktiva Tetap ( fixed asset turnover - FATO ) =
                                                            Penjualan
                                                         Aktiva Tetap
            Perputaran aktiva tetap yang makin meningkat menunjukan bahwa aktiva tetap perusahaan makin produktif dalam menghasilkan pendapatan (penjualan). Demikian juga sebaliknya. Namun, perlu di ingat adanya pengaruh akumulasi penuyusutan pada aktiva tetap. Suatu aktiva tetap selalu di nyatakan dalam nilai bersihnya ( harga perolehan di kurangi akumulasi penyusutan ). Dengan demikian, aktiva tetap lama akan mempunyai akumalasi penyusutan lebih besar  daripada aktiva tetap sehingga nilai bersih aktiva lama lebih kecil daripada aktiva baru. Jika penjualanrelatif tetap, dengan nilai bersih yang kecil, aktiva tetap lama akan memiliki FATO tinggi. Sebaliknya, aktiva tetap baru justru mempunyai FATO  rendah.

Perputaran total aktiva ( total asset turnover - TATO ) =
                                                 Penjualan
                                                Total Aktiva
Penafsiran atas TATO pada dasarnya sama dengan FATO

C.3.     Rasio – rasio utang atau solvabilitas ( LEVERAGE )

Rasio yang menunjukkan proporsi utang
Rasio utang ( debt ratio/debt to total asset-DR/DAR) =
                                     TOTAL UTANG
                                    TOTAL AKTIVA
            Utang pada prinsipnya akan menguntungkan apabila perusahaan mampu memperoleh tingkat pengembalian investasi yang melebihi tingkat bunga yang harus di bayarkan. Namun, perlu di perhatikan bahwa tingkat pengembalian investasi yang akan di peroleh perusahaan sangat bergantung pada kondisi ekonomi yang akan terjadi pada tahun – tahun mendatang. Apabila kondisi ekonomi mendatang membaik, tingkat pengembaliaan investasi juga cenderung meningkat sehingga perusahaan yang berutang akan mampu membayar bunga dan pokok pinjamannya. Sebaliknya, jika ekonomi mendatang memburuk perusahaan akan menderita kerugiaan besar, karena di turunnya pendapatan, perusahaan harus membayar sejumlah beban tetap dari utangnya.

Rasio pengganda utang keuangan ( financial leverage multiplier – FLM )3 =
                                                TOTAL
                                      TOTAL EKUITAS.
            Sepintas rasio ini tampak tidak berhubungan dengan utang karena baik pembilang maupun penyebutnya tidak mengandung unsure utang. Apabila jumlah aktiva relative tetap , sementara utang bertambah, ekuitas akan cenderung mengecil. Hal itu akan berakibat pada meningkatnya rasio FLM. Serupa dengan DR, Film pun perlu ditafsirkan hati-hati manakala menunjukkan angka rasio yang tinggi.

Rasio-rasio yang menunjukkan kemampuan membayar utang atau membayar beban tetap ( dalam jangka panjang )
Rasio kemampuan membayar bunga ( time interest earned/TIE )4  =
                                                    EBIT
                                          BEBAN BUNGA
            Makin besar EBT terhadap beban bunga maka makin meningkatnya TIE. Dengan dimikian perusahaan akan mampu membayar beban bunganya. Sakalipun rasio utang tidak berubah (bahkan menurun), maka dengan menurunnya TIE ini akan lebih mengkhawatirkan kreditor karena turunnya TIE merupakan pertanda semakin rendahnya kemampuan perusahaan didalam membayar utang.

Rasio kemampuan membayar beban tetap (fixed charge converage ratio –FCC) =
                                    EBIT + Pembayaran Sewaguna
                           Beban Bungan + Pembayaran Sewaguna
            Dalam FCC ini perlu diperhatikan pada beban tetap yang timbul dari sewaguna (leasing). Apabila EBIT dan beban bunga relative tetap, pertambahan bahan tetap dari pembayaran sewaguna akan cenderung memperkecil TIE. Dan apabila perusahaan menangung beban tetap dari utang kontraktual dan sewaguna, maka untuk mengukur kemampuan pembayaran utang perusahaan itu sebaiknya digunakan FCC (bukan TIE).

Rasio pemenuhan arus kas (cashflow converage ratio – CC) =
EBIT + Pembayaran Sewaguna + Beban Penjualan
B. Bunga plus pembayaran sewaguna + Deviden saham Preferen + Pelunasan Utang
                                                                        1 - % Pajak                            1 - % Pajak
            Penambahan beban penyusutan pada pembilang dimaksudkan untuk menyesuaikan laba (EBIT) menjadi arus kas. Sementara itu, suku kedua dan ketiga pada penyebut menunjukkan pembayaran deviden saham preferen dan pelunasan utang sebelum pajak. CC disini pada dasarnya untuk mengukur kemampuan arus kas untuk pembayaran sejumlah beban tetap yang berasal dari bunga utang kontraktual, sewwaguna, deviden saham preferen, dan jumlah kas yang disisihkan untuk pelunasan utang jangka panjang (obligasi).

C. 4.    Rasio-Rasio Profitabilitas

Rasio margin laba (profit margin – PM) =   Laba Bersih
                                                                        Penjualan
            Dengan meningkatnya rasio PM ini itu dapat diidentifikasikan bahwa perusahaan mampu menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi dari aktivitas penjualannya. Apbila semakin tinggi tingkat profitabilitasnya maka semakin rendah tingkat likuiditas suatu perusahaan, yang berdampak pada kegagalan perusahaan didalm melunasi seluruh kewajiban jangka pendeknya.

Rasio kemampuan dasar menghasilkan laba (basic earning power ratio / operating return on total asset OROA) =            EBIT
                                                      Total Aktiva
            EBIT merupakan laba murni hasil operasi perusahaan yang belum dipengaruhi keputusan keuangan (utang) dan pajak. Maka dari itu, OROA sejak awal dianggap sebagai alat pengukur laba yang bersumber dari aktivitas investasi.


Tingkat pengendalian atas total aktiva (return on asset - ROA) =   Laba Bersih
                                                                                                            Total Aktiva
            ROA digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan didalam menghasilkan laba yang berasal dari aktivitas investasi.
Tingkat pengendalian atas total ekuitas (return on equity – ROE) =           Laba bersih
                                                                                                                        Total Ekuitas
            ROE disini digunakan untuk mengukur keberhasilan perusahaan didalam menghasilkan laba bagi para pemegang saham. Oleh karena itu, ROE dianggap sebagai persentasi dari kekayaan pemegang saham atau nilai perusahaan.

C. 5.    Rasio-Rasio Nilai Pasar
Rasio harga / laba (price earning ratio – P/E) =       Harga saham biasa perlembar
                                                                                                Laba per lembar
            Harga saham biasa adalah harga yang berlaku dipasar (bursa saham) untuk suatu waktu tertentu. Sedangkan laba per lembar merupakan laba bersih untuk para pemegang saham (laba bersih setelah pajak dikurangi deviden saham preferen) dibagi jumlah saham biasa yang beredar (yang diperjual belikan di bursa saham).
            Apabila semakin tinggi rasio P/E maka akan mengakibatkan semakin mahalnya harga suatu saham perusahaan (relative terhadap laba per lembarnya). Kendati di satu sisi tingginya harga menunjukkan tingginya nilai saham di mata investor, tetapi saham dengan rasio P/E yang tinggi umumnya dihindari oleh para calon pembeli saham. Sebab dengan begitu saham tersebut akan cenderung menurun harganya dalam waktu yang dekat.

Rasio nilai pasar/nilai buku (market book ratio – M/B) =
Harga saham biasa per lembar
                                Nilai buku saham biasa per lembar
            Perbedaan rasio M/B dengan rasio P/E hanya terletak pada penyebut yang digunakan. Rasio M/B untuk mengukur harga saham relative terhadap nilai buku ekuitasnya (saham biasa).

D.         Analisa DuPont
Untuk memahami keterkaitan antara rasio penting yang diperlukan analisis lain, yang dikenal luas sebagai analisis DuPont. Dinamai demikian karena analisis tersebut dikembangkan pertama kali oleh para eksekutif perusahaan DuPont Amerika Serikat.

Perhatikan keterkaitan rasio berikut :
ROA = PM x TATO  Laba Bersih/Total Aktiva=(Laba Bersih/Penjualan) x (Penjualan /Total Aktiva)
ROE = ROA x FLM   Laba Bersih/Ekuitas = (Laba Bersih/Total Aktiva) x (Total Aktiva/Total Ekuitas)
Atau ;
ROE = PM x TATO x FLM   Laba Bersih/Ekuitas = (Laba Bersih/Penjualan ) x (Penjualan/Total Aktiva) x (Total Aktiva/Total Ekuitas)
Bagan Dasar DuPont

                                                PM
                        ROA
ROE                                       TATO
              FLM

Dalam hal ini kelima rasio utama diatas sesungguhnya merupakan representative dari hal-hal penting dari keuangan perusahaan : ROE mengungkapkan kekayaan pemegang saham atau nilai perusahaan ; ROA menunjukkan keputusan investasi ; FLM (atau DR) menggambarkan keputusan keuangan ; PM mencerminkan kemampuan perusahaan didalam menghasilkan laba dari aktivitas operasi penjualan ; TATO mengungkapkan produktivitas aktiva perusahaan dalam menghasilkan pendapatan.

E.         Manfaat dan Keterbatasan Analisis Rasio Keuangan
Ada tiga manfaat dari analisis rasio keuangan bagi tiga pihak berbeda yaitu sebagai berikut :
v   Manajer berfungsi sebagai peralatan analisis perencanaan dan pengendalian keuangan ;
v   Analis kredit perbankan berguna untuk menilai kemampuan pemohon kredit didalam membayar utangnya;
v   Analis sekuritas berguna untuk menilai kewajaran dan prospek harga sekuritas, termasuk untuk menentukan peringkat utang jangka panjang.
Sekalipun bermanfaat, analisis rasio juga mengandung keterbatasan, antara lain :
v   Sukar diterapkan pada perusahaan dengan banyak devisi. Perusahaan yang besar dengan banyak devisi yang berbeda-beda industrinya mungkin akan sulit menentukan perusahaan pembanding yang tepat. Bahwa pada kenyataanya analisis rasio keuangan lebih mudah diterapkan untuk perusahaan kecil dengan bidang usaha yang terbatas.
v   Inflansi dan metode akuntansi. Dengan adanya inflasi, nilai buku yang tercatat dineraca dapat sangat menyimpang dari nilai yang terjadi di pasar. Demikian pula perbedaan metode akuntansi (misalnya dalam pencatatan persediaan) dapat memberikan nilai berbeda bagi suatu perkiraan yang termuat dalam neraca. Dua hal itu perlu dicermati meskipun sering agak susah mengatasinya apabila harus dilakukan analisis rasio dalam waktu singkat.
v   Teknik merekayasa laporan keuangan (Palsuan indah / window dressing). Jika tidak berhati-hati, penggunaan laporan keuangan dapat saja terkecoh dnegan angka-angka pada laporan keuangan. Menjelang tutup buku, perusahaan sengaja meminjam uang tunai untuk disimpan beberapa hari sehingga akan menambah kas pada neraca dan menjadikan tingkat likuiditas parusahaan tampak baik.

RINGKASAN  
1)                jenis analisis rasio adalah (1) analisis silang (waktu yang sama); (2) analisis runtun waktu (waktu yang berbeda); (3) analisis gabungan (menyatukan analisis yang pertama dengan yang kedua).
2)                Ada 2 jenis metode pendekatan analisis rasio keuangan yang diantaranya yaitu : (1) Pendekatan lintas seksi (Cross Sectional Approach); (2) Pendekatan runtun waktu (Time Series Analysis). Adapun standar penilaian dalam analisis rasio keuangan yang meliputi : a) Rata-rata Industri ; b) Perusahaan Paling unggul ; c) Data histories, dan d) Anggaran serta Realisasinya.
3)                Lima aspek yang penting dianalisis mencangkup : (1) Likuiditas; (2) Aktivitas; (3) Solvabilitas; (4) Profitabilitas; (5) Nilai pasar.
4)                Rasio keuangan dapat dikelompokkan menjadi (1) rasio likuiditas (rasio lancer, rasio cepat, rasio kas); (2) rasio aktivitas (perputaran persediaan, periode pengumpulan piutang usaha, perputaran aktiva lancer); (3) rasio solvabilitas (rasio utang, penggandaan utang (Leverage) keuangan, rasio kemampuan membayar bunga rasio, kemampuan membayar beban tetap, rasio pemenuhan arus kas); (4) rasio profitabilitas (rasio margin laba, rasi kemampuan dasar menghasilkan laba, tingkat pengembalian atas total aktiva, tingkat pengembalian atas total ekuitas); (5) rasio nilai pasar (rasi harga/laba, rasio nilai pasar/nilai buku).
5)                Tujuan utama analisis DuPont adalah memahami keterkaitan anatar rasio penting, khususnya ROE, ROA, FLM, PM, dan TATO.
6)                Analisis rasio keuangan sangatlah bermanfaat bagi manajer, analis kredit, dan analis sekuuritas. Sekalipun demikian analisis rasio keuangan juga mengandung kelemahan, anatara lain, sukar diterapkan untuk perusahaan dengan banyak devisi, adanya pengaruh inflasi dan metode akuntansi yang berbeda dan tipuan indah (window dressing).
DAFTAR PUSTAKA
Mardianto, Handono. 2009. Intisari Manajemen Keuangan. Jakarta : Grasindo






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.